ARTI STIGMATA DAN MAKNA KEMATIAN YESUS KRISTUS DI KAYU SALIB

By: Iman Yonggi Cho Sinaga S.Th.

    Pengertian Stigmata

     Stigmata adalah tanda luka-luka Yesus yang tersalib, yang muncul secara tiba-tiba pada tubuh seseorang. Termasuk dalam tanda sengsara ini adalah luka-luka paku di kaki dan tangan, luka tombak di lambung, luka di kepala akibat mahkota duri, dan luka bilur-bilur penderaan di sekujur tubuh, teristimewa di punggung. Seorang stigmatis, yaitu orang yang menderita akibat stigmata, dapat memiliki satu, atau beberapa, atau bahkan semua tanda sengsara itu. Stigmata dapat kelihatan, dapat pula tidak kelihatan, dapat permanen, dapat pula sementara waktu saja.

Makna Kematian Yesus Kristus

     Kematian Yesus dapat dilihat melalui dua cara pandang yang berbeda (John Drane. 1996. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm.87-88)

  1. Kematian Yesus sebagai peristiwa sejarah.
  2. Kematian Yesus sebagai bagian dari rencana Allah (Lukas 19:10)

Penjelasan:

  1. Kematian Yesus Kristus dalam peristiwa sejarah.

     Kematian Yesus Kristus terjadi pada abad ke-1 Masehi, diperkirakan antara tahun 3033 M. Menurut penanggalan Yahudi, Ia mati tergantung di atas salib, tanggal 14 Nisan, beberapa jam sebelum hari Paskah Yahudi dirayakan (tanggal 15 Nisan, dimulai pada sekitar pk. 18:00 saat matahari terbenam) atas perintah gubernur Kerajaan Romawi untuk propinsi Yudea, Pontius Pilatus, dari laporan para pemuka agama Yahudi saat itu bahwa Yesus mengaku sebagai Raja orang Yahudi. Berita penyaliban dan kematian ini dicatat di sejumlah tulisan sejarawan Kerajaan Romawi, orang Yahudi dan murid-murid Yesus.

        2. Kematian Yesus Kristus dalam rencana Allah

     Arti secara luas. Kematian Yesus Kristus di kayu Salib sebagai pernyataan kasih Allah yang besar atau menganggapnya sebagai teladan bagi kita untuk mengorbankan diri (Yoh. 15:13:Rm. 5:8).

     Arti secara terperinci. Kematian Yesus Kristus merupakan:

  • Sebagai pengganti bagi orang-orang berdosa

     Penebusan pengganti artinya Kristus menderita sebagai pengganti bagi kita, sehingga mengakibatkan kebaikan bagi kita karena Dialah yang membayar dosa-dosa kita. Dosa-dosa kita dibayar Yesus Kristus di kayu salib bukan berasal dari setan sebab kalau Yesus Kristus membayar dosa kita dari setan maka setan lebih tinggi dari Yesus. Akan tetapi dosa manusia dibayar oleh Yesus Kristus  dengan darahNya yakni dari pelanggaran manusia terhadap hukum atau Firman Allah. Jadi Firman Allah otoritas tertinggi dan manusia ditebus oleh Yesus Kristus karena manusia melanggar Firman Allah. Penebusan pribadi dengan penebusan pengganti ada perbedaan yaitu:

  1. Penebusan pribadi dilakukan oleh pihak yang bersalah. Hanya merupakan soal keadilan. Tidak akan pernah selesai.
  2. Penebusan Pengganti dilakukan oleh pihak yang disalahkan. Gabungan antara keadilan dan kasih. Hal ini pengorbanan yang lengkap.
  • Sebagai penebusan bagi hubungannya dengan dosa

     Penebusan berarti pembebasan karena suatu pembayaran telah dilakukan.bagi orang-orang percaya pengertian ini sangat penting sebab pembayaran berlangsung pada waktu kematian Yesus Kristus.

  • Sebagai pendamaian bagi hubungannya dengan manusia

     Pendamaian adalah suatu perubahan hubungan dari permusuhan menjadi kerukunan dan pendamaian antara kedua bela pihak. Manusia dapat didamaikan satu dengan yang lain (Mat.5:24, diallasso, 1 Kor. 7:11, Katallasso), dan manusia telah didamaikan dengan Allah (Rm,5:1-11; 2 Kor. 5:18-21, Katallasso, Ef. 2:16; Kol. 1:20, apokatallaso). Pendamaian juga berarti mendamaikan atau menghilangkan atau penghapusan murka Allah melalui korban kematian Yesus Kristus.

     Akibat dosa, maka Allah dengan manusia berada dalam hubungan permusuhan dan perseteruan. Dalam Roma pasal 5:10 dijelaskan bahwa kita adalah seteru atau musuh Allah. Allah menganggap kita sebagai seteru Allah. Dalam Roma 11:28, dijelaskan bahwa Allah menganggap umat Israel sebagai seteru-Nya. Dalam Roma 5:9 Paulus menjelaskan mengenai murka Allah. Sasaran murka Allah terjadi kepada seteru-seteru Allah. Keadaan manusia dengan Allah sudah dalam keadaan amat rusak adanya, hal ini membutuhkan kebutuhan akan adanya perubahan yaitu pendamaian , menjadi begitu sangat penting sekali.

      Dalam Roma 5:10 dijelaskan pendamaian terjadi melalui kematian Tuhan Yesus Kristus. Allah telah menjadikan Dia berdosa karena kita agar kita dibenarkan oleh Allah di dalam Dia. Kematian Yesus Kristus secara total telah mengubah keadaan manusia, yaitu dahulu sebagai seteru Allah kemudian menjadi manusia yang benar dan sama sekali berdamai dengan Allah yang benar.

     Sasaran dari pendamaian Yesus Kristus, Allah didamaikan dengan manusia, manusia di damaikan dengan Allah, kedua pihak didamaikan secara bersama-sama. Artinya manusia didamaikan dengan Allah. Manusia adalah sasaran pendamaian. Tetapi masih ada arti bahwa setelah manusia menerima pendamaian secara pribadi, maka kedua belah pihak, manusia dan Allah, bisa dikatakan didamaikan sehingga mereka dapat saling bersekutu kembali. Memang murka terhadap manusia dan inisiatif untuk mengadakan perubahan datangnya dari Allah; Ia mendatangi manusia untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya.

     Persyaratan Allah mengenai pendamaian bersifat universal. Pendamaian secara universal ini mengubah keadaan dunia dari tidak dapat diselamatkan menjadi dapat diselamatkan. Pendamaian secara pribadi melalui iman benar-benar membawa pendamaian itu dalam hidup orang yang bersangkutan dan mengubah keadaan orang itu dari tidak diselamatkan menjadi diselamatkan. Dan hanya dengan cara demikian, dosa-dosa diampuni, meskipun dosa-dosa sudah dibayar dikayu salib. Pendamaian dilaksanakan oleh Allah sekali untuk selamanya untuk semua orang berdosa.

  • Sebagai pengampunan  dalam hubungannya dengan Allah.

     Lukas 23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Pengampunan itu nyata keluar dari ucapan Yesus Kristus untuk semua orang berdosa. Walaupun semua orang disekitarnya berbuat jahat kepadaNya namun tetap mengampuni.

Siapakah Yang bertanggungjawab dalam Kematian Yesus Kristus di Kayu Salib ?
1. Yudas Iskariot. Yudas telah menghianati, menyerahkan Yesus, menjual serta membuat kesepakatan dengan para imam dalam penangkapan Yesus Kristus (Matius 26: 21-22; Matius 14:18-19).

2. Sanhedrin. Dari Getsemani, Yesus dibawa ke Pengadilan Yahudi, disitu Sanhedrin menyatakan Yesus dengan tuduhan-tuduhan palsu akan tetapi tunduhan palsunya tidak mengenai sasarannya sehingga orang-orang farisi jengkel melihat Yesus dan pada akhirnya mereka mendesak Yesus untuk menjawab satu pertanyaan yaitu: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah atau tidak?” Jawab Yesus, “Benar, engkau telah mengatakannya.” Maka imam besar itu  mengoyakkan pakaiannya dan berkata, “Ia sudah menghujat Allah, untuk apa kita perlu saksi lagi?” Dengan demikian Sanhedrinlah yang telah menjatuhi hukuman mati atas Yesus. Memang, oleh Sanhedrin, Yesus telah divonis sebagai orang yang tidak dapat diampuni dosanya. Karena Dia melanggar “kehormatan Allah”. Tetapi Sanhedrin tidak berhak untuk menjalankan hukuman tersebut.

3. Pontius Pilatus. Pontius Pilatus sudah menyatakan sesuatu kepada orang-orang Yahudi bahwa  Pilatus tidak menemukan kesalahan-Nya. Buktinya Pilatus berkata kepada mereka bahwa “Aku ini tidak mendapati suatu kesalahan pun pada-Nya.” Akan tetapi, karena desakan-desakan politis, ancaman-ancaman dan intimidasi dari pihak pemimpin agama Yahudi, Pilatus yang mula-mula berdiri tegak hendak melepaskan Yesus, akhirnya terpaksa menyerah kalah terhadadap tuntutan-tuntutan orang Yahudi itu, sehingga karena habis akal ia menyerahkan Yesus ke tangan mereka untuk disalibkan.
            Dari pembahasan di atas, seolah-olah ada tiga pihak yang harus bertanggung jawab atas kematian Yesus, yaitu: Yudas, pemimpin-pemimpin orang Yahudi, dan Pilatus. Tetapi hal ini masih belum menyatakan keseluruhan fakta, mengapa Yesus mati, sebab kematian Yesus sudah diizinkan bahkan telah ditentukan oleh Allah Bapa seperti yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 4:27-28, “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.”
     Pilatus tidak memerintahkan Yesus dihukum mati dengan cara dilempari batu, sesuai dengan hukum agama Yahudi. Hukuman dilempari batu memang akan mendatangkan kematian, tetapi itu tidak akan menggenapi kesaksian Alkitab tentang jalan kematian sang Mesias, yakni mati diantara pemberontak-pemberontak (Yes. 53:12). Penyaliban adalah cara yang ditentukan Pilatus, suatu cara yang tidak pernah dikenakan kepada warga negara Roma. Cara penyaliban hanya dikenakan kepada orang-orang paling hina dan rendah dalam strata sosial, yakni budak, pemberontak-pemberontak dan orang-orang kutukan (Ul. 21:23, Gal. 3:13). Dengan disalibkan, Yesus menanggung kutukan atas dosa manusia (Karl Barth. Dogmatics in Outline. hlm. 117).

     Yesus Kristus dihakimi menurut tuntutan hukum kerajaan Roma padahal Yesus adalah seorang Yahudi tanpa protes dari para iman. Bahkan imam-imam jugalah yang menyerahkan Dia ke tangan Roma. Kita tahu seperti apa kebenciaan para imam Yahudi terhadap otoritas Roma. Hakim mendapati dirinya tidak bersalah, tetapi toh dijatuhi hukman mati. Hukuman yang diterima orang Yahudi yang bernama Yesus ini dilaksanakan di bawah tuntutan hukum Roma, yakni disalibkan dan bukan di bawah hukum Yahudi, dilempari dengan batu padahal tuduhan atasNya berhubungan dengan pelanggaran akan hukum Yahudi.

Kejadian-kejadian aneh saat kematian Yesus Kristus sbb

  • Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah (Matius 27:51; Markus 15:28: Lukas 23:45).
  • Terjadilah gempa bumi (Mat. 27:51).
  • Bukit-bukit batu terbelah (Mat. 27:51).
  • Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang (Matius 27:52-53).
  • Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi (Matius 27:54).
  • Kepala pasukan (yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian (Matius 15:39) berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” (Matius 27:54) dan juga ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” (Lukas 27:47)
  • Datanglah prajurit-prajurit untuk mematahkan kaki orang-orang yang disalib, supaya cepat mati dan mayat-mayat dapat diturunkan. Hal ini atas permintaan orang-orang Yahudi kepada Pilatus, berhubung hari itu hari persiapan sebelum Paskah Yahudi. Ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yohanes 19: 31-34)
  • Sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri (Lukas 23:48).

PUSTAKA;

(Dr. Charles  C. Ryrie, 2010 Teologi Dasar 2. Yogyakarta: Andi. Hal.28-29).

(Karl Barth. Dogmatics in Outline. hlm. 117).

(John Drane. 1996. Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm.87-88)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Kematian_Yesus).

About Iman Yonggi Cho

All Of Jesus Christ

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: