KEBENARAN YANG NYATA DALAM KRISTUS ( Efesus 4 : 21 -32 )

IMAN YONGGI CHO SINAGA, S.Th.

A       Analisa Isi Surat Efesus

  • Penulis Surat

Dari tahun 95 M sampai abad ke 2 ada banyak bukti orang menerima surat Efesus ini sebagai surat tulisan Paulus. Juga sesuai dengan bukti dari Efesus 1 : 1; 3 : 1. Tetapi para ahli modern menentang fakta ini dengan tajam. Ada beberapa alas an yang diajukan:

  1. Surat ini gaya bahasanya tidak sama dengan surat-surat Paulus yang lain. Ada setengah dari jumlah  kata-kata yang dipakai, tidak terdapat pada bagian Perjanjian Baru yang lain. Ada 44 kata yang tidak dipakai dalam surat-surat Paulus yang lain.
  2. Struktur yang dipakai dalam surat ini berbeda dengan surat Paulus yang lain:
    1. Tidak ada keakraban hubungan antara penulis dan pembaca.
    2. Tidak ada salam dan penutup seperti surat-surat yang lain.
    3. Tidak ada salam untuk orang-orang akrab atau nama-nama tidak dicantumkan.
    4. Tidak ada uraian yang penuh perdebatan dan uraian logis.
    5. Bukan gaya surat untuk dialamatkan kepada seseorang, terlalu puistis untuk surat umum.
    6. Tahun penulisan diperkirakan melebihi zamannya Paulus ( dilihat dari ciri dan ungkapan tahun ).
    7. Nama “Efesus” tidak tercantum dibeberapa surat salinan asli yang lain.

Dari alasan diatas dapat disimpulkan bahwa kemungkinan Paulus bukanlah penulis surat Efesus, tetapi mungkin ada orang yang ingin menyebar luaskan tulisan Paulus sehingga meniru dan memakai nama Paulus. Namun demikian kesimpulan ini belum diterima sepenuhnya oleh Teolog Injili.

  • Tujuan Surat
  1. Untuk Ucapan Syukur : Paulus mengucap syukur  dan terima kasih akan anugerah Allah bagi jemaat di Efesus.
  2. Nasehat untuk hidup  jemaat yang dewasa : kasih Paulus ditunjukkan bagi  jemaat ini karena Paulus  sendiri  yang  telah mendidik mereka bertumbuh menjadi dewasa. Namun demikian Paulus merasa perlu untuk mengingatkan mereka kembali untuk hidup kudus dan tidak cepat puas.
  3. Untuk memberitahukan asal-usul gereja. Jemaat Efesus yang sebagian besar adalah non-Yahudi perlu diingatkan untuk tidak menganggap remeh Israel  yang menganggap sepele  partisipasi orang  Yahudi dalam amanat Injil. Memang orang non-Yahudi  mempunyai kedudukan yang sama dengan orang Yahudi, namun demikian penting bagi mereka untuk mengingat bahwa asal-usul  gereja adalah Israel.
  • Tahun Penulisan

Ayat yang menunjuk jelas tentang waktu penulisan surat ini adalah dalam Efesus 3 : 1 dan 6 : 20, yang menceritakan keadaan Paulus waktu menulis surat ini, yaitu ketika ia ada di penjara Roma. Hal ini sesuai dengan catatan dari Kolose 4 : 3, 10, 18 dan Kisah Para Rasul 28. Oleh karena itu tahun yang tepat untuk penulisan surat Efesus adalah antara tahun 60-62 M.

  • Tempat Penulisan

Surat Efesus adalah salah satu surat yang dikenal sebagai “ Surat penjara”, karena memang ditulis oleh Paulus pada waktu ia ada di penjara di Roma ( Ef. 3 : 1; 6 : 20 ).

B       Analisa Sejarah Dan Latar Belakang

  • Sejarah Berdirinya Jemaat Galatia

Jemaat Efesus didirikan oleh Paulus ( Kis. 19, 20 ), pada saat Paulus melakukan perjalanan misi ketiga, Paulus sempat tinggal di Efesus dan mendidik mereka dengan penuh kasih untuk semakin berakar selama tiga tahun. Menurut kesaksian Paulus jemaat Efesus adalah jemaat yang dewasa ( Efesus 1 : 3-14 ), karena mereka bisa menerima makanan keras. Diketahui bahwa sebagian besar jemaat adalah orang-orang non-Yahudi, hanya sebagian kecil orang Yahudi. Timotius adalah orang yang ditunjuk untuk melanjutkan pelayanan Paulus setelah Paulus pergi.

  • Latar Belakang Kota Efesus

Kota Efesus adalah Sebuah kota kuno taraf internasional. Terletak pada muara Kaistros di Asia Kecil. Kira-kira tahun 1000 sebelum Masehi. Didiami oleh para imigran dari Ionia. Kemudian bisa berkembang menjadi kota perdagangan yang kaya dan bernilai budaya tinggi (Herakletus).  Sejak tahun 133 sebelum Masehi menjadi pusat propinsi Romawi di Asia. Kenisah dewi Artemis dengan arca dewi itu termasuk bilangan mujizat dunia sejak dari zaman kuno ( Kis 19:35). Arca dewi Artemis dikabarkan jatuh dari langit. Dikalangan koloni Yahudi di situ yang menikmati berbagai privelesi istimewa, pewartaan agama Kristen memperoleh tanggapan kuat sekali ( Kis 18:24 ; Kis 19:1), sedangkan di tengah penghuni lainnya berkembanglah kekuatan sihir (Kis 19:19). Paulus bekerja di Efesus dalam perjalanan misionaris yang pertama dan kedua, sampai pada saat ia diusir karena huru-hara tukang perak ( Kis 18:19-21; 19:1-20:1). Kepentingan jemaat di Efesus juga ditekankan oleh ( Wahy 2:1-7 ). Gereja mengadakan konsili ekumeni III di situ pada tahun 431. (Berita tentang wafatnya Ibu Maria di Efesus adalah sebuah legenda). Dewasa ini kota itu adalah kota Selcuk.

C      Analisa Konteks

  • Konteks Dekat

Dalam konteks dekatnya bahwa, sebagai orang percaya kepada Kristus yang memang benar-benar mengenal Allah didalam setiap langkah hidupnya, mereka harus berpegang kepada kebenaran didalam kasih dan harusnya jemaat Efesus bertumbuh didalam segala hal kearah Dia, Kristus yang adalah kepala ( Efesus 4 : 15-16).

  • Konteks Jauh

Secara konteks jauh, dapat diteliti dalam Kolose 3: 10, kembali diingatkan, salah satu bagian dari karakter orang Kristen yang mengenal Allah yaitu mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.

 

KEBENARAN YANG NYATA DALAM KRISTUS

 ( Efesus 4 : 21 -32 )

Manusia Lama

Arti dan Defenisi Menanggalkan dan manusia Lama

Kalimat “ Menanggalkan Manusia Lama “ (Ayat 22). Dalam kamus Global kata “ Menanggalkan”: dalam bahasa inggris adalah disconnect (kkt.) yang artinya melepaskan, mencopot, dan  memutuskan. Arti yang lain adalah “Disrobe” ( kkt., kki.) yang artinya membuka atau menanggalkan pakaian. “Divest” (kkt.) membebaskan, melepaskan. “Doff” ( kkt.) yang artinya mengangkat.

Kata “Menanggalkan” ( Yunani ) “Anastrophe”. Meaning : manner of life ( gaya, cara, sikap untuk hidup ), conduct ( (kb.) tingkah laku, kelakuan ), behavior ( kelakuan. tindak-tanduk. deportment ( tingkah laku, kelakuan, sikap ( kb.) ). Jadi maksud Penulis dari setiap kata dan kalimat yang tertera adalah Paulus menekankan kepada jemaat Efesus, supaya mereka menanggalkan, meninggalkan, melepaskan setiap tingkah laku, kelakuan, gaya hidup, cara hidup, sikap hidup, tingkah laku, tindak tanduk yang tidak berkenaan apa yang seharusnya Paulus inginkan. Paulus menyampaikan hal ini supaya mereka tidak jauh dari hadapan Allah, namun mereka semakin serupa dengan Allah. Paulus juga merindukan sesuatu yang baru terjadi didalam diri mereka masing-masing termasuk dalam persekutuan jemaat. Paulus hanya mengharapkan mereka tampil beda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Manusia lama adalah manusia yang jauh dari Allah. manusia lama hanya mengenal keinginan untuk memiliki, untuk menarik segala sesuatu kepada dirinya, sekalipun untuk itu ia harus melakukan kejahatan atau ketidak-benaran atau ketidak-adilan secara terang-terangan. ( J.L.Ch. Abineno, 2009 : 161 ) Dalam sisi yang lain, Paulus menjelaskan kepada jemaat Efesus mengenai manusia lama. Manusia lama adalah manusia yang belum diperbaharui, dikerjakan oleh Allah didalam diri manusia itu sendiri. Dalam ayat 23 mengatakan,: “Supaya kamu dibaharui didalam roh dan pikiran.” Manusia lama adalah manusia yang sama sekali roh dan pikirannya belum sesuai dengan apa yang sudah Allah inginkan dan yang belum diubahkan dan perbaharui.

Sifat-Sifat Manusia Lama

Ada beberapa hal sifat-sifat manusia Lama yaitu;

  • Dusta  atau bohong ( ayat 25 ).

Dalam kamus bahasa Indonesia bahwa bohong adalah tidak sesuai dengan hal atau keadaan yang sebenarnya.  Dusta dalam bahasa Ibrani adalah syeqer, yang artinya : kebohongan, penipuan, dan kazan artinya : dusta atau hal yang palsu. Dalam bahasa Yunani pseudos dan yang sejenisnya. Pada dasarnya dusta adalah pernyataan tentang sesuatu yang diketahui palsu dengan maksud menipu. Dusta adalah dosa dari orang yang menyangkal Kristus dan biasanya kebiasaan berdusta menghilangkan keselamatan yang kekal ( Why. 21 : 27 ). Menurut rasul Paulus, Dusta merupakan sifat orang yang belum ditebus atau bisa disamakan dengan sifat orang yang belum mengenal pribadi Yesus yang seutuhnya, yang menolak Kristus dan yang belum mengalami Tuhan didalam pribadinya sendiri.

Dusta adalah sifat manusia lama. Manusia lama itu tidak jujur terhadap sesama manusia, ia memakai topeng. manusia baru tidaklah demikian. dusta berhubungan erat dengan amarah. jika anggota jemaat tidak jujur satu sama lain dan saling mendustai, maka akan timbul curiga, amarah, dan lain-lain diantara mereka. dan lain-lain diantara mereka.

  • Marah ( ayat 26 )

Dalam Kamus Bahasa Indonesia “Marah” artinya sangat tidak senang karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya; berang; gusar. Kata “ Marah” dalam bahasa Yunani adalah “ovrgi,zw “ atauy orgizo. Meaning:  1) to provoke, to arouse to anger 2) to be provoked to anger, be angry, be wroth  : Merangsang membangkitkan untuk marah 2) menjadi perangsang untuk marah, marah atau gusar. Jadi, Paulus menyampaikan bahwa sikap marah yang tidak beralasan, akan membawa kerugian besar bagi jemaat tersebut. Paulus menjelaskan, biasanya orang yang marah dikarenakan kondisi kepribadiannya kurang stabil.

  • Memberi kesempatan kepada iblis ( ayat 27 )

Suatu perselisihan yang dibiarkan tanpa penyelesaian merupakan kesempatan yang sangat menguntungkan bagi iblis untuk membangkitkan perpecahan. tidak jarang bahwa  gereja terpecah dalam kelompok yang saling bertentangan, disebabkan oleh perselisihan antara dua, tiga orang yang tidak segera diselesaikan. pengertian dari kedua nasehat Paulus adalah sebagai berikut. kata bahasa Yunani untuk Iblis adalah diabolos. tetapi dalam bahasa sehari-hari kata bahasa Yunani adalah pemfitnah. arti kata ini dipakai oleh Luther dalam ungkapannya yang berikata: “Jangan berikan tempat kepada pemfitnah didalam hidupmu.” kemungkinan besar pengertian kedua hal inilah yang dimaksudkan oleh Paulus. tidak ada orang didunia ini yang lebih mampu melakukan kehancuran kecuali si pemfitnah dan penyebar berita bohong.

  • Mencuri ( ayat 28 )

Kata “ Mencuri” dalam bahasa Yunani adalah “Klepton” dari “Kleptein” sama artinya “Mencuri”. Particium yang tidak mempunyai waktu, particium ini menyatakan suatu perbuatan yang terus menerus atau berulang-ulang berlangsung. Jadi penulis menyimpulkan kata “Klepton” artinya orang yang biasa mencuri.

Dalam dunia Kuno pencurian sangat merajalela. pencurian itu sangat umum terjadi dermaga-dermaga yang terutama ditempat-tempat pemandian umum. pada waktu itu tempat-tempat pemandian umum merupakan milik kelompok-kelompok tertentu hanya para kelompok saja yang bisa mandi disitu. pencurian atas barang-barang milik orang yang sedang mandi, merupakan kejahatan umum yang tak pernah dapat dihindarkan disetiap kota Yunani. ( William, 2008 : 236 )

  • Perkataan kotor ( ayat 29 )

Perkataan kotor dalam bahasa Yunani adalah logos sapros yaitu perkataan buruk dan busuk. Paulus mengingat akan perkataan-perkataan kotor, busuk dan buruk yang banyak sekali dipakai oleh orang-orang kafir dan juga oleh jemaat-jemaat di Efesus. dengan tegas, ia menuntut kepada mereka supaya perbuatan itu mereka hentikan dan sebagai ganti perkataan kotor itu mereka memakai perkataan-perkataan yang baik ( sopan ) yang mendatangkan kebaikan ( berkat, kasih karunia ) kepada pendengar-pendengarnya.

  • Mendudukakan Roh Kudus Allah ( ayat 30 ).

Roh Kudus yang tinggal di dalam diri orang percaya ( Rm. 8 : 9 ), adalah oknum yang dapat mengalami duka atau kesedihan yang mendalam sebagaimana halnya Yesus ketika dia menangisi Yerusalem atau bersedih pada peristiwa lainya ( Mat. 23 : 37; Mrk 3 : 5 ). Orang yang masih memiliki kehidupan lama namun yang sudah percaya Yesus, apabila mereka mengabaikan kehadiran, suara dan pimpinan-Nya ( Rm. 8 : 5-17 ), mereka sudah termasuk orang yang mendukakan Roh Kudus. Mendukakan Roh Kudus juga membawa kepada penolakan Roh Kudus ( Kis. 7 : 51 ); seterusnya menghasilkan pemadaman api Roh ( 1 Tes. 5 : 19 ), dan akhirnya menghina Roh Kasih Karunia ( Ibr. 10 : 29 ).

  • Kepahitan ( ayat 31 )

Dalam kamus bahasa Indonesia bahwa arti kepahitan adalah sebuah rasa yang tidak sedap seperti rasa empedu dan tidak menyenangkan hati. Hal ini pasti cenderung menyusahkan hati, menyedihkan dan pengalaman yang  menyakitkan. Tindakan ini merupakan tindakan yang merugikan orang lain. Kerugian yang ada adalah kerugian yang cukup besar karena akan membuat seseorang tidak beraktivitas untuk melakukan suatu pekerjaan. Setiap orang yang mengalami kepahitan tanpa mereka sadari bahwa mereka hidup diluar kebenaran Allah yang sudah ditentukan-Nya.

  • Kegeraman ( ayat 31 )

Kegeraman adalah kemarahan dan kegemasan. Jemaat Efesus memiliki sikap dan tindakan saling marah atau gemas satu dengan yang lain. mereka tidak saling menghargai satu dengan yang lain. mereka saling menyakiti, saling memojokkan, saling menjauhi dan tidak mau akan kepentingan yang lain, hingga mereka di cap oleh rasul Paulus jemaat yang memiliki karakter geram atau pemarah. Paulus ingin menjaga keharmonisan terjadi ditengah-tengah jemaat yang tidak ada dalam kesatuan. Paulus menasihatkan dengan tegas, agar mereka tidak hidup lagi sebagai pemarah dan tidak lagi memiliki sifta marah yang mungkin akan menyakiti orang lain.

  • Kemarahan ( ayat 31 )

Kemarahan dalam bahasa Yunani adalah orge yang artinya kemarahan yang berkelanjutan, yang tidak pernah habis. Kemarahan yang sudah melebihi batas kekuatan sangatlah berbahaya bagi orang-orang yang disekitarnya. Kemarahan yang tinggal didalam kehidupan seseorang harus segera dengan secepatnya diselesaikan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan kepada orang-orang yang ada disekitar mereka.

  • Pertikaian ( ayat 31 )

Dalam kamus secara global, kata “ Pertikaian “ dalam bahasa Inggris adalah Pertama,  “Dispute”, dalam bentuk kata bendab artinya perselisihan, percekcokan. Dalam kata kerja keterangan artinya membantah. Arti yang Kedua, dalam bahasa Inggris “ Pertikaian adalah “Faction” Dalam kata benda artinya golongan, kumpulan orang-orang dalam partai politik, gereja. Jadi, Paulus mengetahui peristiwa perselisihan dan percekcokan yang hebat terjadi didalam siding jemaat hingga Paulus menuliskan sebuah surat mengenai pertikaian, supaya tidak ada lagi didalam kehidupan mereka. pertikaian disatu sisi memang sangat diperlukan, untuk menguji setiap keyakinan yang ada, namun peristiwa yang ada didalam jemaat adalah peristiwa yang sudah diluar batas yang dipikirkan oleh Rasul Paulus.

  • Fitnah ( ayat 31 )

Paulus menjelaskan bahwa fitnah adalah Sesuatu yang dibenci Tuhan, karena diluar kebenaran yang sudah ditetapkan agar tidak dilakukan ( Ams. 6 : 16,19 ). Kata “ Memfitnah” sangat dialarang oleh rasul paulus untuk diterapkan bagi kehidupan ( Kel. 23 : 1; Ef. 4 : 31; Yak. 4 : 11 ). Ada beberapa hal yang termasuk fitnah didalam Alkitab atau Firman Allah seperti gambaran rasul Paulus, antara lain; bisik-bisikan ( Rm, 1 : 29; 2 Kor. 12 : 20 ), umpat ( Rom. 1 : 30; 2 Kor. 12 : 20 ), curiga ( 1 Tim, 6 : 4 ), mencampuri urusan orang lain ( Im. 19 : 16; 1 Tim. 5 : 13 0 ), mengatakan yang jahat ( Mzm. 41 : 6; 109 : 20 ), mengadukan ( 1 Kor. 4 : 13 ), Mengucapkan kesaksian dusta ( Kel 20:16; Ul 5:20; Luk 3:14 ), menghakimi dengan tidak mengasihi ( Yak 4:11,12 ), menyebarkan kabar bohong ( Kel 23:1 ) dan membangkit-bangkitkan perkara. Jemaat Efesus rata-rata melakukan hal yang demikian.

  • Kejahatan ( ayat 31 )

 

Manusia Baru

Arti kata dan Defenisi mengenakan dan Manusia Baru

Kalimat “ Mengenakan Manusia Baru “ ( Ayat 24 ).Kata “Mengenakan” ( Inggris ) “ Put”. Dalam bahasa Yunani kata “ mengenakan” adalah  “Apotithemi” yang artinya to put of or aside away. Dalam terjemahan Indonesia artinya : “ Menaruh, menempatkan” atau “Telepas jauh”. Jadi, Paulus benar-benar memberitahukan kepada jemaat Efesus, agar mereka mengenakan manusia baru, menempatkan kehidupan mereka kepada sikap-sikap yang baru, dan mereka terlepas jauh dari kehidupan lama mereka. Bila jemaat Efesus taat akan perintah ini, maka jemaat tersebut layak dikatakan mereka adalah jemaat yang berkenan dihadapan Allah, karena mereka bisa menjadi cermin bagi sekitar mereka.

Paulus menjelaskan kepada jemaat di Efesus mengenai manusia baru. Manusia baru adalah manusia yang sudah diperbaharui oleh Allah didalam roh dan pikiran ( ayat 23 ) dan manusia baru ini diciptakan atau diadakan oleh Allah menurut kehendak Allah didalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya ( ayat 24 ). Paulus juga menyampaikan bahwa manusia baru adalah manusia yang dipenuhi oleh kasih Kristus, mengenal pelayanan, mengenal tugas dan pekerjaannya didalam persekutuan, dimana ia berada sebagai anggota.

Sifat-sifat manusia baru

Ada beberapa hal ditemukan sifat-sifat manusia baru yaitu :

  • Berkata benar seorang kepada yang lain ( ayat 25 )

Paulus memberikan cukup alasan bagi setiap orang untuk menyatakan kebenaran. salah satu alasan itu ialah bahwa semua adalah anggota dari satu tubuh. kita dapat hidup aman, hanya karena  indra dan syaraf kita menyampaikan informasi yang benar kepada otak. jika informasi yang disampaikan itu salah, misalnya dengan mengatakan bahwa sesuatu itu dingin dan dapat dipegang, padahal sesungguhnya panas membara, maka hidup kita ini akan segera hancur binasa. tubuh dapat berfungsi secara sehat, hanya jika setiap bagian dari tubuh itu menyampaikan informasi yang benar kepada otak. demikian juga jika kita semua ini terikat sebagai satu tubuh, maka tubuh itu hanya dapat berfungsi secara sehat dan baik jika kita berkata dan berlaku benar.

  • Marah yang tidak menimbulkan dosa ( ayat 26 )

Dalam ayat ini ada kaitannya dengan Mazmur 4 : 5 mengatakan: “ Supaya mereka jangan berdosa dalam amarah mereka, apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. marah adalah suatu tindakan yang sangat penting untuk dimiliki. namun marah yang tidak penting untuk dimiliki adalah marah yang terus menerus berlangsung. marah yang penting adalah marah terhadap suatu tindakan yang mengandung unsur dosa untuk dilakukan.

Dalam kehidupan orang Kristen harus ada kemarahan. tetapi kemarahannya haruslah kemarahan yang benar. Watak yang buruk dan sifat pemarah tak dapat dipertahankan; tetapi ada sejenis kemarahan yang diperlukan agar dunia ini tidak menjadi tempat yang lebih jelek.

  • Tidak memberi kesempatan kepada iblis ( ayat 27 )

Maksunya Paulus adalah mereka tidak memberikan peluang, waktu dan tempat didalam kehidupan mereka pribadi maupun dalam sebuah komunitas untuk melakukan suatu tindakan yang berasal dari si iblis yang sifatnya merusak, membunuh, menghancurkan, mencuri, membinasakan, membuat kecewa dan perpecahan. yang membuat akar pahit, kegeraman, putus asa, kemerosotan moral dan kebimbangan. Seks bebas, fitnah  dan kehancuran, dan masih banyak hal yang lainnya. Mereka harus menghindari semuanya itu dan sangat penting untuk membentengi diri mereka atau persekutuan jemaat yang ada.

  • Bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri ( ayat 28 )

Bekerja keras dan bekerja dengan baikn dengan tangan sendiri yang dimaksud adalah bekerja yang disertai dengan ketulusan hati dan usaha yang kuat yang disertai oleh Allah. Bekerja keras, berati berkerja dengan tenaga yang banyak, sebenarnya dilaksanakan hanya untuk mencapai sesuatu yang dia harapkan. berbicara mengenai bekerja, bukan saja bersifat sekuler atau secara fisik saja untuk mendapatkan financial, melainkan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemauan Allah itu sendiri. Paulus memunculkan pernyataan yang demikian, tujuannya untuk memahami konsep bekerja dengan baik. Konsep bekerja Paulus saat itu adalah konsep bekerja untuk pekerjaan dan pelayanan Tuhan. mereka harus giat dan berusaha dengan segenap hati untuk mendapatkan sesuatu yang sudah Tuhan janjikan kepada mereka. Paulus juga berharap pekerjaan yang mereka lakukan itu adalah pekerjaan yang murni, bersih, tidak ada penipuan, dan tidak ada perselisihan yang muncul.

  • Menggunakan perkataan yang baik untuk membangun dimana perlu ( ayat 29 )

Perkataan baik dalam bahasa Yunani adalah logos agathos, logos kalos ( 7 : 17 ). Yang dimaksudkan disini dengan perkataan baik adalah perkataan yang membangun. Ungkapan untuk membangun adalah pros oikodomen yang artinya fundamental. Jadi, Maksud Paulus perkataan yang baik dan yang akan membangun adalah perkataan yang memberikan suatu pengetahuan, pengertian, ilmu pengetahuan, perkataan yang mengubahkan dan perkataan yang memotivasi  satu dengan yang lain. Bukan menggunakan perkataan yang sesuka hatinya yang tujuannya merusak kehidupan orang lain  sehingga hal itu menghancurkan. Seseorang yang ingin berkata-kata, sangat penting untuk berfikir terlebih dahulu sebelum memperkatakan sesuatu, apakah hal itu yang baik dan sifatnya membangun. Jadi Paulus menekankan penggunaan perkataan yang baik dan benar, sesuai dengan kebutuhan yang baik terhadap orang lain dan jemaat yang ada.

  • Tidak mendukakan Roh kudus ( ayat 30 ).

Paulus menekankan agar jemaat di Efesus tidak akan mendukakan Roh Kudus maksudnya : mereka tidak melakukan suatu tindakan yang membuat Roh Kudus menangis, bersedih, meratap dan menyakiti hati-Nya. mereka harus melakukan suatu inisiatif yang bisa membuat Roh Kudus itu dapat bergerak dengan leluasa didalam kehidupan mereka.  Paulus rindu jemaat Efesus harus mengerti tindakan yang membuat Roh Kudus berdukacita atau tidak demikian. sebenarnya secara realitas kehidupan mereka, mereka sudah membuat Roh Kudus berduka, sehingga Paulus memberikan suatu nasihat kepada mereka agar mereka tidak membuat Roh kudus dalam keadaan berduka.

  • Membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan ( ayat 31 )

Dalam ayat ini, Paulus mengajak seluruh jemaat yang di Efesus, supaya mereka membuang semua kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan segala kejahatan. Ajakan ini kepada jemaat, hanya demi kebaikan dari komunitas dan kepribadian mereka masing-masing. Paulus mengajar mereka dengan tulisannya bahwa semua yang tertera diatas tidak mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi hidup mereka sendiri. Justru hal ini akan membuat keadaan mereka semakin buruk, jika mereka tidak taat kepada apa yang dituliskan oleh Paulus.

  • Ramah seorang terhadap yang lain ( ayat 32 )

Secara umum kata “Ramah” dalam bahasa Yunani adalah “Epieikeia” terdapat hanya dalam 2 Korintus 10:1 mengenai Kristus yang lemah lembut dan ramah. Istilah itu menggambarkan hakim yang tidak menuntut hukuman ketat, tetapi memberi tempat pada rasa belas kasihan, supaya hak yang sah tidak menghasilkan perbuatan salah dalam moral. Dalam kata sifat “Epieikes” melukiskan sifat orang percaya yang menyerupai Kristus. sifat lain berhubungan dengan sifat ramah dalam 1 Timotius 3 : 3; Titus 3 : 2; Yakobus 3:17; 1 Pet 2 : 18. Kata “Epieikeia” digunakan dalam retorik atau kata muluk dalam Kisah Para Rasul 24 : 4. Beberapa istilah Ibrani dan Yunani lain diterjemahkan ‘ramah’, misalnya “Naim” 2 Samuel 1 : 23 ), “Filanthropos ( Kis 27 : 3 ), dan Khrestos ( Ef 4:32 ). Jadi, sikap ramah atau keramah tamahan berhubungan erat dengan kasih dan kelemah lembutan. Dalam hal ini sama seperti dalam seluruh tingkah lakunya, orang Kristen harus menjadi pengikut Kristus yang ramah tamah.

Sikap ramah juga adalah Sikap baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan: memang menyenangkan bergaul dengan orang yang  ada disekitarnya. biasanya banyak tawa dan banyak bicara; lidah suka bercakap-cakap; peramah; dalam setiap tindakan dan perkataannya, ia tidak akan pernah melukai orang dan menyinggung setiap hati sekitarnya. Paulus mengingatkan kembali untuk jemaat bahwa sikap ramah sangat perlu untuk dimiliki didalam sebuah komunitas maupun dalam diluar komunitas mereka. jika hal ini semakin diterapkan maka kesatuan jemaat akan semakin kokoh.

  • Penuh kasih mesra ( ayat 32 )

`Kasih tidak sebatas kasih. Kasih harus nyata dan dirasakan setiap individu. Kasih mesra merupakan kasih yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Kasih mesra yang sifatnya akrab dan harmonis. Kebenaran Allah dinyatakan karena adanya kasih Allah yang tiada henti kepada setiap manusia yang percaya kepadanya. Kebenaran Allah mengandung unsur kasih. Kebenaran Allah tidak bisa terlepaskan dari kasih mesra. Kasih mesra dibutuhkan banyak manusia khususnya dihadapan Allah, Allah sangat menginginkan hal itu terjadi di dalam kehidupan umat-Nya.

  • Saling mengampuni ( ayat 32 )

Kata “Mengampuni” dalam Perjanjian Baru terdapat dua kata kerja, yaitu kharizomai yang artinya melakukan secara anugerah, aphiemi dan kata benda aphesis yang artinya melepaskan. Dalam Lukas 6:37  terdapat apolyo ( melepaskan’) dan dalam  Roma 2:25 terdapat paresis ( membiarkan dosa  pada masa lampau ). Orang berdosa yg diampuni harus juga mengampuni orang lain, demikian yang diperintahkan Paulus untuk saling mengampuni.

 

BAB 3

KESIMPULAN DAN APLIKASI


Kesimpulan

Manusia lama adalah manusia yang belum menerima Kristus, Kristus tidak ada didalam diri mereka, hidup menurut keinginan daging, sama dengan orang fasik, bebal, jahat dan belum tidak mengenal Kristus di dalam diri seseorang. Manusia lama adalah manusia yang belum diperbaharui oleh Kristus secara roh, jiwa, mental, pikiran dan hal-hal yang bersifat karakter dan perkataan. Kebenaran Allah belum dinyatakan di dalam mereka yang masih terjun pola manusia lama. Kebenaran Allah nyata kepada orang-orang yang terjun dalam manusia baru. Manusia baru adalah manusia yang mengalami Tuhan secara utuh, mengalami kebenaran dan bertemu dengan kebenaran sehingga mereka mengalami perubahan hidup secara perkataan dan pikiran. Baru, dikatakan, saat ada sesuatu yang mengerjakannya yaitu Yesus Kristus didalam diri mereka.

Manusia baru adalah manusia yang serupa dengan Kristus, fokus utama adalah Kristus,  karakternya adalah karakter Kristus. Kehidupan yang menuruti kehendaknya Kristus.

Aplikasi

Pertama, Manusia baru sangat diperlukan integritas, perubahan pikiran, tindakan, dan perkataan yang menyenangkan, dan yang membangun.

Kedua, Membuang manusia lama berarti membuang semua sikap yang bertentangan dengan Firman Tuhan, yang tidak berkenan dihadapan Tuhan, yang menyakiti Allah dan yang kurang sempurna dihadapan Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Abineno J.L.Ch.,

2002        Tafsiran Alkitab Surat Efesus. Jakarta : Bpk Gunung Mulia

Browning W.R.F.,

2009. Kamus Alkitab. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia

Barclay William,

2002        Surat-Surat Galatia Dan Efesus. Jakarta : Bpk Gunung Mulia

Joyner Rick,

2003    Pesan Bagi Gereja Yang Mulia. Bandung : Revival Publishing House

About Iman Yonggi Cho

All Of Jesus Christ

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: