ETIKA PELAYANAN DAN KODE ETIK

BAB 2

ETIKA PELAYANAN DAN KODE ETIK

 

Apa itu kode etik?

  1. Suyanto berkata: kode etik adalah “suatu hukum etik, biasanya dibuat oleh suatu organisasi atau suatu kelompok, sebagai suatu patokan tentang sikap mental yang wajib dipatuhi oleh para anggotanya dalam menjalankan tugasnya.
  2. Onong Uchajana Effendy berkata: “Kode etik adalah rumusan pedoman perilaku yang menunjukkan hal-hal yang mana yang harus dilakukan dan yang mana tidak boleh dilakukan.
  3. O.P.Simorangkir berkata: “Kode etik adalah persetujuan bersama, yang timbul dari diri para anggota itu sendiri untuk lebih mengarahkan perkembangan mereka, sesuai dengan nilai-nilai ideal yang diharapkan. Jadi kode etik adalah hasil murni yang sesuai dengan aspirasi profesi suatu kelompok tertentu, demi untuk kepentingan bersama dan kerukunan.
  4. Undang-undang No.8 tahun 1974, pasal 28 berkata: “Pegawai negeri sipil mempunyai kode etik sebagai pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan didalam dan diluar kedinasan.

Kesimpulan : kode etik merupakan kumpulan asas-asas atau nilai-nilai moral yang menjadi norma perilaku.

Apa itu Kode etik profesi?

Abdulkadir M. berkata: “Kode etik profesi merupakan bagian dari moral etika terapan (professional ethic application), sebab dihasilkan dari penerapan pemikiran etis yang berkaitan dengan suatu perilaku atau aplikasi profesi tertentu, yang berpedoman dengan tindakan etik, yaitu mana yang seharusnya dapat dilakukan dan yang mana semestinya tidak dilakukan, karena hal itu berdasarkan pertimbangan secara etika moral yang tepat, sebagai seorang professional dan proporsional dalam melakonkan profesi terhormatnya. Jadi kesimpulannya, kode etik profesi yaitu kode atau hokum perilaku yang ditetapkan dan dapat diterima oleh kelompok profesi, yang menjadi pedoman bagaimana harusnya berperilaku dalam menjalankan profesi tersebut secara etis.

Aplikasi kode etik pelayanan

Pedoman sikap dan perilaku moral dalam melaksanakan pelayanan yang didasarkan atas Firman Tuhan, yang ditetapkan dan bisa diterima oleh mereka yang terlibat dalam pelayanan tersebut. Jelas kode etik diperlukan oleh masing-masing gereja dan lembaga pelayanan.

Pelayanan adalah profesi luhur.

Istilah “Profesi” berasal dari bahasa Latin “Profesus”, yang artinya suatu kegiatan atau pekerjaan yang semula dihubungkan dengan sumpah dan janji bersifat religious. Berarti secara historis penggunaan istilah profesi adalah seseorang yang memiliki ikatan batin dengan pekerjaannya atau kegiatannya. Pada perkembangan selanjutnya, istilah profesi menunjuk pada keterampilan atau keahlian khusus seseorang yang menjadi pekerjaannya.

Jenis bidang profesi yakni;

  1. Profesi khusus: yang melaksanakan profesi secara khusus untuk memperoleh penghasilan atau nafkah sebagai tujuan utamanya. Misalnya, profesi dibidang hokum, ekonomi. politik, kedokteran
  2. Profesi luhur: adalah para professional yang melaksanakan profesinya, tidak lagi untuk mendapatkan nafkah sebagai tujuan utamanya, tetapi sudah merupakan pengabdiannya semata. Misalnya, kegiatan profesi dibidang keagamaan, guru, sosial, budaya dan seni.

Ciri dan prinsip etika profesi luhur.

  1. Ciri-ciri

Ciri-ciri menjadi hamba Tuhan yang professional dalam pelayanan

  • Memiliki iman yang dewasa, sudah lahir baru, hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan dapat menjadi teladan dalam iman dan perbuatan kesehariannya.
  • Memiliki skill atau kecakapan atau kemampuan yang memadai, yang diperoleh dari pendidikan disekolah teologia, wawasan pengetahuan umum yang meluas, dan pengalaman pelayanan sekian lama, yang mendukung predikat sebagai hamba Tuhan yang professional pada bidang profesi luhur.
  • mempunyai tanggungjawab profesi (responsibility) dan integritas pribadi yang tinggi sebagai hamba Tuhan terhadap umat yang dilayani dan gereja secara umum sehingga nama gereja dijaga baik, dan nama Tuhan dipermuliakan.
  • memiliki jiwa pengabdian dan mengasihi Tuhan, dan melayani umat Kristen dengan penuh dedikasi profesi luhur. Melayani tanpa pamrih dan mengutamakan pegabdian dan mengasihi sesame.
  • berpegang pada etika pelayanan pada bidangnya. Yang merupakan pedoman standard moral dan komitmen etis perilaku, dalam pelaksanaan tugas pelayanan, dan kewajiban yang mesti dipatuhinya.
  1. Prinsip-prinsip

Prinsip-prinsip dari etika profesi luhur sebagai hamba Tuhan yakni;

  • kemampuan akan kesadaran etis, maksudnya untuk lebih sensitive dalam memperhatikan kepentingan pelayanan, dan dikembangkan untuk pelayanan yang lebih luas.
  • kemampuan akan berfikir etis, maksudnya punya wawasan, kemampuan, dan berfikir secara etis dalam mempertimbangkan tindakan profesi pelayanannya. Keputusan yang diambilnya harus rasional, obyektif, penuh integritas pribadi dan tanggungjawab.
  • kemampuan akan berperilaku etis, maksudnya sikap dan perilaku yang baik dan sopan ketika mengadakan suatu pelayanan secara pribadi, maupun dalam konteks yang lebih besar. Dan tetap menghormati martabat dan pendapat atau pendirian yang dilayani.
  • kemampuan akan kepemimpinan etis. Maksudnya, memiliki jiwa yang mampu memimpin secara etis, yang mengasihi, membimbing, mengayomi, dan membina umat yang dipimpinya.

Upaya mewujudkan kode etik pelayanan.

Johannesen dalam bukunya berjudul ethics in human communication, yang dalam tulisan dibawah ini diaplikasikan dalam konteks pelayanan, sebagai berikut;

  1. Kode etik harus memperjelas prinsip moral yang berlaku nilai etika yang mendasari ketentuan, seperti kasih, ramah, sopan, pendamai, bukan pemarah, bijaksana, kewajaran, penghargaan terhadap hak orang lain, dan mempertimbangkan konsekuensi suatu tindakan. Perlunya mengetahui tentang apa yang etis untuk dilakukan, tetapi juga memahami mengapa hal tersebut adalah benar.
  2. kode etik harus jelas dan spesifik serta masuk akal. Mengurangi adanya kerancuan dan kesamaran tentang suatu hal dalam pelayanan, sebab pelayanan itu berbagai bentuk dan ragam, missal; misi atau PI, konseling, kunjungan, berkhotbah, penggembalaan dan sebagainya.
  3. kode etik perlu memperjelas tentang sasaran ideal yang akan diperjuangkan, karena sering tidak sepenuhnya dapat dicapai, atau dipenuhi dalam nilai ideal oleh pelayan Tuhan (kondisi umum), dan adakah efeknya jika tidak dapat memenuhi standard pelayan tersebut.
  4. kode etik sebaiknya dalam keadaan biasa, tidak menuntut suatu pengorbanan luar biasa atau kebajikan heroic, sebaiknya, kode etik ditujukan  kepada orang yang punya hati nurani biasa, dan mau mengikutinya.
  5. kode etik harus melindungi kepentingan orang yang dilayani, dan umat pada umumnya. Tidak boleh melindungi kepentingan kelompok atau pribadi pelayan Tuhan, dengan mengorbankan orang lain atau jemaat.
  6. kode etik harus tegas, bukan sekedar peringatan yang sifatnya umum dalam menghadapi kebohongan, kecurangan dan lainnya. Hal itu untuk memfokuskan dalam menghadapi godaan-godaan dari anggota-anggotanya.
  7. kode etik harus merangsang kelanjutan diskusi dan refleksi yang membawa perubahan atau revisi.
  8. kode etik dalam ketentuannya untuk organisasi, wajib dikembangkan melalui partisipasi yang melibatkan banyak anggota, seperti pimpinan, majelis gereja, pengerja, staf atasan maupun bawahan, dan sebagainya.
  9. kode etik haruslah dapat dilaksanakan, bukan cumin suatu idealism dan impian saja. Jika ada sangsi hukuman bagi pelanggar, maka harus ada prosedur dan mekanisme dari lembaga atau gereja, dan system pelaksanaannya yang jujur.

Kode etik dan Etika pelayanan

  1. Kode etik
  • Kode etik berisi norma atau pedoman moral yang berisi perintah atau larangan bersikap dan bertindak bagi pelayan Tuhan.
  • Kode etik dapat lebih memiliki sifat pemaksaan karena adanya sangsi bagi pelanggarnya.
  • Kode etik lebih praktis, sebagai pedoman sikap dan moral dalam suatu pelaksanaan tugas pelayanan, yang member keteraturan dan keharmonisan kerja.
  1. Etika pelayanan
  • Etika pelayanan lebih luas dibanding kode etik pelayan Tuhan. Etika pelayanan mengkaji tentang apa yang benar, tentang apa yang salah, dan mempertimbangkan bagaimana seharusnya, baik terhadap dirinya sendiri atau lembaganya maupun terhadap orang yang dilayani, terhadap umat Kristen atau terhadap gereja lain, yang mencakup pola motivasi dan keadaan batin yang mendasari atas tindakannya.
  • Etika pelayanan bersifat himbauan akan kesadaran etisnya, yang kalau ditaati akan diberkati dan dikasihi Tuhan.  

Kode etik pelayanan konseling pastoral

  1. Pengertian Konseling pastoral

Pelayanan konseling pastoral adalah merupakan salah satu wujud pelaksanaan misi dan pelayanan yang utuh, yang merupakan pula usaha menopang, menyembuhkan, memperbaiki hubungan, memelihara dan membimbing seseorang dalam menolong orang tersebut dari masalah atau penderitaannya (Mat. 25:40,45).

  1. Kode etik pelayanan konseling pastoral
    1. Pasal 1 Kewajiban Umum

Hal-hal yang wajib dilakukan oleh seorang konselor kristiani, yaitu;

  • melayani berdasarkan kasih dan kebenaran dari Tuhan Yesus Kristus
  • mengutamakan kepentingan dan kebutuhan konseli diatas kepentingan dirinya sendiri.
  • memperhatikan fungsi dan prinsip konseling pastoral, yang meliputi membimbing, memelihara, menopang, memperbaiki hubungan dan menyembuhkan.
  1. Pasal 2 Kewajiban Khusus

Hal-hal yang wajib dilakukan oleh seorang konselor kristiani secara khusus yaitu;

  1. Menjungjung tinggi martabat konseli sebagai “Gambar Allah” (Kej. 1:26)
  2. Melayani konseli berdasarkan kemampuan secara maksimal
  3. Memegang rahasia konseli berdasarkan kepercayaan yang diberikan, sehingga konseli merasa aman.
  4. Mendahulukan kebutuhan pertolongan yang mendesak berdasarkan prioritas.
  5. Menghargai konseli sebagai seorang yang mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalahnyasendiri.
  6. Tidak menghukum konseli.
  7. Merujuk dengan dasar persetujuan konseli;
  • Bila konseli terlalu akrab dengan konseli untuk menjamin obyektivitas
  • Bila konseli memiliki masalah yang spesifik: sosial, psikis, rohani atau jasmani.
  • Bila konseli tidak mempercayai konselor.
  • Bila konselor kehilangan kepercayaan dari konseli.
  • Bila ada alasan-alasan lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
  1. Menghargai teman sejawat dalam pelaksanaan tugas pelayanan.
  2. Bekerja sama dengan tenaga-tenaga professional atau lembaga-lembaga sebagai mitra kerja dalam proses menolong konseli.
  3. Bersedia untuk secara konsekwen mengevaluasi mutu dari pelayanan konselingnya sendiri.

About Iman Yonggi Cho

All Of Jesus Christ

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: